Ilustrasi ib kamara off-white untuk artikel Ib kamara off-white: Ib Kamara Tinggalkan Off-White; The Met…

Ib kamara off-white: Ib Kamara Tinggalkan Off-White; The Met…

0 0
Read Time:3 Minute, 40 Second

Ib Kamara Off-White menjadi sorotan setelah sang desainer mengakhiri masa jabatannya sebagai direktur kreatif rumah mode tersebut. Berita itu muncul bersamaan dengan keputusan Metropolitan Museum of Art untuk membatalkan pameran Costume Institute yang direncanakan pada musim semi 2026.

Ilustrasi ib kamara off-white untuk artikel Ib kamara off-white: Ib Kamara Tinggalkan Off-White; The Met…

Peristiwanya menandai minggu yang ramai di dunia mode, dengan beberapa perkembangan lain mulai dari kampanye Stone Island hingga monograf Sandy Liang dan pemenang inisiatif desain sepatu global.

Perpisahan Ib Kamara dan posisi di Off-White

Ib Kamara, yang resmi mengambil alih kepemimpinan Off-White pada musim semi 2022, telah berpisah secara kesepakatan dengan merek tersebut. Dalam pernyataan resmi, CEO Bluestar Alliance Joey Gabbay menyampaikan apresiasi atas kontribusi Kamara dalam mengembangkan rumah mode itu: “Kami sangat menghargai visi, kreativitas, dan energi luar biasa yang dibawa Ib ke Off-White sepanjang masa tugasnya. Kontribusi Ib sangat penting dalam membentuk dan mengembangkan merek ini, dan kami sungguh berterima kasih atas dedikasi serta dampak berkelanjutan yang ia tinggalkan.”

Di bawah kepemimpinan Kamara, Off-White mencatat beberapa momen penting, termasuk gelaran runway pertamanya di New York yang diselenggarakan di Brooklyn dan peluncuran lini L/AB c/o Off-White yang ditujukan untuk menjangkau konsumen lebih luas. Hingga kini pihak rumah mode belum mengumumkan pengganti untuk posisi direktur kreatif.

The Met membatalkan pameran John Galliano

The Metropolitan Museum of Art secara resmi membatalkan pameran Costume Institute berjudul “John Galliano: Horizons” yang semula dijadwalkan tampil pada musim semi 2026. Keputusan ini dibuat menyusul kritik terhadap pernyataan rasis yang dilontarkan Galliano pada 2011. Keputusan pembatalan dikonfirmasi bersama oleh John Galliano, Anna Wintour, dan kurator Andrew Bolton.

John Galliano menyatakan penyesalan dan tanggung jawab atas pernyataan masa lalu, dan menulis: “Setelah banyak merenung dan berdiskusi dengan The Met serta semua pihak yang terlibat, dengan sangat sedih saya memutuskan bahwa pameran ini sebaiknya tidak berlangsung saat ini. Saya tetap bertanggung jawab sepenuhnya atas luka yang ditimbulkan oleh kata-kata saya di masa lalu, terutama luka yang saya sebabkan kepada komunitas Yahudi dan Asia, dan saya tetap sangat menyesalinya.” Pernyataan itu menegaskan bahwa pihak terkait sepakat bahwa menunda pameran adalah langkah yang tepat pada saat ini.

Ringkasan kabar mode lainnya

Selain dua berita besar di atas, pekan ini sejumlah perkembangan lain turut menarik perhatian:

  • Stone Island: Kampanye berkelanjutan bertajuk “Community as a Form of Research” menampilkan wajah-wajah budaya termasuk fakemink, Skepta, Stephen Graham, 3House, Samir Bantal, Monika Sprüth, dan Jia Zhang-Ke. Serangkaian foto yang dipotret David Sims dan ditata Max Pearmain menampilkan ragam outerwear Stone Island, sembari menampilkan respons para peserta terhadap kuesioner yang disusun Hans Ulrich Obrist.
  • Sandy Liang: Desainer New York ini mengabadikan lebih dari satu dekade karyanya dalam sebuah monograf berjudul Dressing Up: Sandy Liang, yang diterbitkan Rizzoli dan memuat 276 halaman. Liang menjelaskan perspektifnya dalam buku itu: “Berbagi kehidupan saya lewat karya terasa intuitif bagi saya—yang satu tidak lengkap tanpa yang lain. Buku kenangan ini menangkap satu dekade perjalanan merek melalui sudut pandang tersebut.” Buku tersebut banyak memuat foto pribadi serta kontribusi dari direktur kreatif Ava Nirui dan penata gaya Dean DiCriscio.
  • Jordan Design Studio: Program perdana Jordan Design Studio menobatkan desainer Beijing Syn Zhuang sebagai pemenang lewat karyanya yang menafsir ulang Air Jordan 1 untuk pemakai perempuan. Pada acara “The One” di Shanghai, desain Zhuang ditampilkan sebagai versi yang menyederhanakan siluet klasik—dengan kotak jari kaki yang lebih lembut dan membulat serta kerah suede yang dapat diubah, menonjolkan Swoosh terbalik ketika dikenakan dalam posisi tegak. Zhuang menyampaikan visinya secara pribadi: “Sebuah karya klasik tidak harus hadir dalam satu bentuk yang tetap. Ia dapat hadir dengan cara berbeda untuk menjangkau orang yang berbeda. Saya ingin sepatu ini memberi sedikit rasa lega—bukan kemalasan, bukan menyerah, melainkan perasaan bahwa tidak apa-apa untuk lebih santai dan menjadi diri sendiri.”
  • YOSHIDA & Co. (PORTER): Perusahaan Jepang itu kembali hadir di New York lewat PORTER LIMITED STORE, pop-up di SOHO yang berlangsung selama lima hari hingga 6 September. Pop-up menampilkan tiga merek milik perusahaan—PORTER, POTR, dan L.L.—serta koleksi kapsul kolaborasi bersama Aurel Schmidt dan HELLO KITTY. Selain pilihan ransel, tas bahu, dan tas jinjing, pengunjung dapat menemukan YOSHIDA & Co. 90 Anniversary BOOK dan instalasi khusus untuk lokasi New York tersebut.

Perkembangan-perkembangan ini mencerminkan dinamika industri mode yang terus bergerak—dari perubahan kepemimpinan di rumah mode hingga perdebatan seputar warisan kreatif dan etika seni. Meski situasi masing-masing berbeda, rangkaian kabar pekan ini menunjukkan bagaimana isu kreativitas, tanggung jawab publik, dan kolaborasi budaya saling bertautan dalam lanskap mode konrer.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %